Jejak Langkah Ina Dua Jalani Profesi Pewarta Kampung

Jumat, 13 Juli 20120 komentar


KM. Tantonga - Bagaimana proses penyebaran informasi jika ada kegiatan kemasyarakatan atau hajatan di masyarakat mungkin tidak banyak yang menyadarinya. Aspek ini sangat berperan penting bagi kelancaran dan keberlanjutan kegiatan kemasyarakatan.

Untuk itu beberapa cara yang dilakukan oleh masyarakat di desa Tangga adalah dengan menyuarakan melalui masjid dan musholah-musholah. Akan tetapi hal itu tidak cukup kuat untuk meyakinkan bahwa seluruh masyarkat mengetahui siapa yang berhajat dan kapan pelaksanaanya. Sehingga dengan berpikir demikian masyarakat desa Tangga sejak tahun 79 sepakat menunjuk salah satu warga yang bertugas untuk menyambung informasi ke rumah-rumah.

Hingga hari ini Maemunah (48 thn) adalah generasi ke tiga yang menjadi pewarta. Sepintas tidak ada yang menyangka kalau profesi ini membutuhkan kesabaran serta tenaga ekstra sebab untuk menjadi pewarta kampung harus menghafal siapa saja yang berhajat, kapan pelaksanaannya serta dimana tempatnya.

“Belum lagi harus menjawab pertanyaan yang menyangkut silsilah keluarga yang akan berhajat, hal ini harus diketahui sebenar-benarnya karena jika informasi yang harus disampaikan itu menyangkut sunatan atau hajatan lain akan mudah dijawab namun jika menyangkut hajat untuk rencana pernikahan yang melibatkan orang di luar desa otomatis akan ada pertanyaan menyangkut silsilah keluarga,” ungkap Maemunah saat menjalankan tugasnya sore tadi di RT.03 desa Tangga.

Ina Dua demikian sapaan akrab wanita ini yang mengaku telah menekuni profesinya sejak thun 95 tersebut saat ditanya berapa upah yang diterima untuk satu orang yang berhajat. Dikatakannya bahwa untuk itu ia diupah 40 ribu rupiah, “Imbalan ini sangat cukup untuk menambah keuangan keluarga meskipun tidak setiap hari karena tergantung ada yang hajatan,” ungkap wanita yang 2 tahun ditinggal mati suaminya ini.

Profesi ini dijalaninya dengan penuh kesabaran meskipun ia harus mengelilingi kampung sebanyak 18 RT. “Saya jalan mulai pukul 08 pagi kemudian dilanjutkan usai makan siang, dan biasanya akan dilanjutkan keesokan harinnya hingga siang,” tuturnya saat ditanya berapa waktu yang dibutuhkan untuk itu.

Dengan jarak tempuh tersebut ketika ditanya kenapa tidak menggunakan kendaraan atau minimal dengan bersepedah, ia menjelaskan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. “Sebab perjalanan ini jaraknya berdekatan karena harus dari rumah ke rumah, keluar masuk lorong dan berbukit” terangnya. 

Tenaga seperti Ina Dua ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kendati ada cara lain yang lebih praktis yang dapat dilakukan yakni dengan membagikan undangan. “Namun saya rasa hal itu akan jauh lebih mahal dan rumit jika dibandingkan dengan memakai tenaga pewarta kampung. Kecuali untuk acara resepsi yang harus mengundang orang luar kampung saja dengan memakai surat undangan,” ungkap Ir. Muslim sekretaris desa Tangga ditemui di kantor Pos Monta.[Leo]
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Tantonga Parewa - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger